Apakah pernah terlintas dalam benak kamu, sejenak tenggelam dalam dunia imajinasi, hanya untuk menyadari bahwa waktu telah terlalu lama berlalu? Maladaptive daydreaming adalah pengalaman yang mungkin sudah kamu alami. Disini kita akan membahas gejala dan tanda-tanda dari fenomena ini dari perspektif psikologi.
Maladaptive daydreaming adalah bentuk daydreaming yang berlebihan dan obsesif. Ini dapat mengganggu kualitas hidup seseorang, mempengaruhi produktivitas, dan memiliki konsekuensi psikologis yang serius. Mari kita telaah lebih dalam.
Gejala Maladaptive Daydreaming
berikut ini beberapa gejala dari maladaptive daydreaming:
1. Khayalan yang Terlalu Intens
Salah satu tanda utama maladaptive daydreaming adalah intensitasnya yang melebihi daydreaming biasa. Kamu mungkin tenggelam dalam dunia imajinasi dengan sangat mendalam, bahkan hingga berjam-jam. Kamu mungkin merasa seperti karakter utama dalam cerita kamu sendiri.
2. Kesulitan Berkonsentrasi
Individu yang terkena maladaptive daydreaming seringkali mengalami kesulitan dalam memusatkan perhatian pada tugas-tugas sehari-hari. Ini bisa berdampak negatif pada pekerjaan, sekolah, dan hubungan sosial mereka.
3. Menghindari Tanggung Jawab
Orang-orang yang menderita maladaptive daydreaming mungkin lebih suka "melarikan diri" ke dalam khayalan mereka daripada menghadapi tanggung jawab nyata. Ini dapat menciptakan konflik dalam kehidupan sehari-hari mereka.
4. Durasi yang Berlebihan
Maladaptive daydreaming seringkali memakan waktu yang berlebihan dalam sehari. Seseorang mungkin merasa kesulitan untuk menghentikan atau mengendalikan proses daydreaming mereka, bahkan jika mereka menyadarinya.
Tanda-tanda Maladaptive Daydreaming
Selain gejala yang dapat dirasakan, adapun beberapa tanda-tanda maladaptive daydreaming ini, yakni:
1. Isolasi Sosial
Orang-orang dengan maladaptive daydreaming mungkin lebih memilih berada dalam dunianya sendiri daripada terlibat dalam interaksi sosial. Mereka dapat merasa lebih nyaman dalam imajinasi daripada dalam kehidupan nyata.
2. Perasaan Bersalah
Setelah berjam-jam terbuai dalam khayalan, seseorang mungkin merasa bersalah atau menyesal karena telah menghabiskan begitu banyak waktu dalam daydreaming. Ini bisa memicu perasaan negatif dan kecemasan.
3. Kehilangan Kontrol
Individu dengan maladaptive daydreaming mungkin merasa kehilangan kendali atas proses daydreaming mereka. Mereka mungkin ingin berhenti, tetapi merasa sulit untuk melakukannya.
4. Konsekuensi Emosional
Maladaptive daydreaming dapat menyebabkan konsekuensi emosional yang serius, seperti depresi dan kecemasan. Kamu yang mengalami ini mungkin merasa terisolasi dan tidak bisa mengatasi masalah yang muncul.
Dalam psikologi, maladaptive daydreaming dapat dilihat sebagai bentuk mekanisme koping yang tidak sehat. Individu mungkin menggunakan daydreaming sebagai cara untuk menghindari masalah atau stres dalam kehidupan mereka. Ini bisa menjadi tanda bahwa mereka tidak dapat mengatasi tantangan dan konflik secara efektif. Selain itu, maladaptive daydreaming dapat menjadi gejala gangguan kesehatan mental yang lebih serius, seperti gangguan kepribadian, gangguan obsesif-kompulsif, atau gangguan perhatian dan hiperaktivitas (ADHD). Penting untuk mengidentifikasi dan mengatasi masalah ini secepat mungkin.
Maladaptive daydreaming adalah fenomena yang memengaruhi banyak orang, tetapi seringkali tidak diakui. Dari perspektif psikologi, ini adalah mekanisme koping yang mungkin merugikan ketika digunakan secara berlebihan. Mengenali gejala dan tanda-tandanya adalah langkah pertama dalam mengatasi masalah ini dan mencari bantuan yang diperlukan. Jika kamu atau seseorang yang kamu kenal mengalami maladaptive daydreaming, ingatlah bahwa ada dukungan dan solusi yang tersedia untuk membantu mengelola kondisi ini dengan lebih efektif.
Referensi :
LeClair, N. Michelle. 2022. The Daydreamer's Guide to Life: How to Thrive in a World That Doesn't Understand You.
Selamat datang di Contact Person
Psikolog Gunawan Soewito