Erich Fromm adalah seorang psikolog sosial dan psikoanalis asal Jerman yang lahir pada 23 Maret 1900 di Frankfurt. Ia dikenal sebagai tokoh penting dari sekolah frankfurt, sekaligus pemikir besar yang memadukan psikoanalisis ala Freud dengan humanisme. Perpaduan inilah yang membuat teorinya disebut sebagai psikoanalisis humanistik.
Psikoanalisis Humanistik: Membaca Manusia dengan Cara Baru
Bagi Fromm, psikoterapi bukan hanya soal menyembuhkan gangguan jiwa, tapi juga membantu manusia memahami dirinya sendiri. Menurutnya, tanpa mengenal diri sendiri, kita tidak mungkin benar-benar memahami orang lain. Ia percaya bahwa terapi harus dibangun atas dasar hubungan manusiawi antara terapis dan klien.
Fromm membawa pembaruan dalam psikoanalisis dengan menekankan faktor budaya, sejarah, dan sosial-ekonomi dalam membentuk kepribadian. Inilah yang membedakan pandangannya dengan Freud yang lebih fokus pada dorongan biologis.
Dilema Eksistensial Manusia
Salah satu konsep penting Fromm adalah dilema eksistensial. Ia menilai bahwa manusia selalu berada dalam tarik-menarik antara dua sisi yang bertolak belakang:
Manusia sebagai binatang vs sebagai manusia : dorongan insting biologis berhadapan dengan kebutuhan kesadaran, kasih sayang, dan moral.
Hidup vs mati : manusia sadar bahwa hidup berujung pada kematian, namun tetap mencari makna.
Kesempurnaan vs ketidaksempurnaan : manusia mendambakan kesempurnaan, meski realitas penuh keterbatasan.
Kesendirian vs kebersamaan : manusia butuh ruang pribadi, tetapi juga tidak bisa hidup tanpa orang lain.
Dilema ini membuat manusia selalu gelisah, namun juga menjadi dorongan untuk tumbuh.
Karakter Sosial: Produktif vs Non-Produktif
Fromm membagi karakter sosial manusia menjadi dua kelompok besar:
Produktif, ditandai dengan kemampuan bekerja, mencinta, dan berpikir secara kreatif. Tipe ini dianggap sehat karena mampu menyatukan kebebasan individu dengan keterhubungan sosial.
Non-Produktif, terdiri dari empat tipe:
Reseptif : hanya menunggu menerima dari orang lain.
Eksploitasi : cenderung mengambil atau memanfaatkan orang lain.
Penimbun: sulit melepaskan, terikat pada masa lalu.
Pemasaran: menjadikan diri seperti “komoditas” yang mengikuti pasar.
Gangguan Kepribadian Menurut Fromm
Fromm juga membahas beberapa bentuk gangguan kepribadian:
Nekrofilia : ketertarikan pada kematian, kehancuran, dan kekerasan.
Narsisisme berat : merasa diri luar biasa tanpa dasar nyata, hingga mengabaikan realitas.
Incest symbiosis : ketergantungan berlebihan pada figur ibu atau pengganti ibu sehingga kehilangan identitas pribadi.
Menurutnya, orang dengan jiwa sehat adalah mereka yang mampu mencintai, berkarya, dan menemukan makna hidup secara positif.
Warisan Pemikiran Fromm
Fromm menulis banyak karya, salah satunya yang terkenal adalah Escape from Freedom (1941), yang membahas paradoks kebebasan: semakin bebas manusia, sering kali semakin kesepian. Pandangan ini membuatnya berpengaruh besar dalam psikologi humanistik, sekaligus membuka ruang diskusi tentang kebebasan, cinta, dan makna hidup di dunia mode
Dari pemikiran Fromm, kita belajar bahwa menjadi manusia berarti hidup dalam kontradiksi. Justru dilema itulah yang mendorong kita untuk terus tumbuh, mencintai, dan mencari arti hidup.
Layanan konseling professional, kami membantu individu dan organisasi mengatasi tantangan mental, memberikan dukungan yang efektif dan solusi yang praktis. Kunjungi sekarang juga di www.PsikologKakgun.com
Referensi :
Feist, J., Feist, G. J., & Roberts, T.-A. (2017). Theories of Personality. McGraw-Hill Education.
Hidayat, R. D. (2015). Teori dan Aplikasi Psikologi Kepribadian dalam Konseling. Ghalia Indonesia.
Saumantri, T., & Sanusi, A. (2022). Refleksi atas Pandemi Covid-19 Berdasarkan Perspektif Teori Psikoanalisis Humanis Erich Fromm. Prophetic: Professional, Empathy, Islamic Counseling Journal, 5(1), 23-34.
Yogiswari, K. S. (2021). Konsep Ketuhanan dalam Filsafat Erich Fromm (1900-1980). Sanjiwani: Jurnal Filsafat, 12(1), 13-27.
Ewen, Robert B., (2010). An introduction to theories of personality. Taylor and Francis Group
Selamat datang di Contact Person
Psikolog Gunawan Soewito